Menkominfo : Indonesia Hasilkan 200 Technopreneur Setiap Tahun


JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara berpendapat bahwa Indonesia mesti belajar mengenai pengembangan e-commerce dari Amerika Serikat (AS) dan China.
"Kita perlu belajar dari dua negara tersebut untuk implementasi e-commerce. Pertumbuhan e-commerce China berkembang karena adanya campur tangan pemerintah," ujarnya seperti disitat dari laman Kominfo dalam Indonesia Telecoms, Technology and e-Commerce Conference di Jakarta, Senin (14/03/2016).

Sedangkan AS, lanjut dia sudah siap dari sisi infrastruktur dan konektivitasnya sudah baik. Selain itu mereka juga memiliki free market policy dalam mendukung perkembangan e-commerce. Sedangkan perkembangan peta jalan (roadmap) e-commerce sendiri saat ini tinggal menunggu pengesahan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Roadmap e-commerce akan menyinkronisasikan 31 inisiatif dari delapan Kementerian untuk memastikan pertumbuhan dari sektor technopreneur. Kita perkirakan transaksi e-commerce Indonesia akan mencapai USD130 miliar pada 2020," ungkap pria yang kerap disapa Chief RA tersebut. 

Menkominfo menyatakan bahwa pemerintah terbuka terhadap investor asing yang ingin berinvestasi di Indonesia. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pihak asing terkait investasi. "Pertama, tidak boleh mendapat investasi asing sama sekali yakni perusahaan e-commerce dengan nilai valuasi di bawah Rp10 miliar. Kedua, bisa mendapat investasi asing maksimal 49 persen, yakni e-commerce dengan valuasi di rentang Rp10 Miliar sampai Rp100 miliar," urainya. Dan ketiga, lanjutnya, pihak asing boleh memiliki layanan e-commerce hingga 100 persen yakni dengan valuasi perusahaan e-commerce harus berada di atas Rp100 Miliar,” ucap menteri. 

Rudiantara mengatakan pemerintah berambisi melahirkan 1.000 technopreneur di bidang e-commerce hingga tahun 2020. Untuk mencapai target tersebut, setidaknya pemerintah harus menyiapkan setidaknya 200 technopreneur dalam setiap tahun."Kita akan dorong lahirnya technopreneur melalui berbagai kegiatan seperti workshop dan hackathon, sehingga bisa dihasilkan 200 teknoprenur setiap tahun,” tandas Rudiantara. 


sumber: okezone.com


EmoticonEmoticon