
Facebook semakin usang. Dalam waktu 18 bulan, aplikasi chatting mobile akan mengambil alih
posisi media sosial tersebut sebagai platform sosial paling aktif di dunia.
Prediksi itu dinyatakan oleh Simon Kemp, Managing Partner We Are Social region Asia, yang baru-baru ini menyampaikan gagasannya di konferensi #ThinkPH 2016. Konferensi tersebut dihelat oleh situs berita asal Filipina, Rappler, di Manila.
Kendati tak menyebut aplikasi chatting mana yang ia maksud, WhatsApp dan Facebook Messenger adalah dua aplikasi yang paling mendekati Facebook dalam hal jumlah pengguna aktif bulanan. Facebook memiliki pengguna aktif bulanan sebanyak 1,7 miliar, sedangkan Facebook Messenger dan WhatsApp masing-masing memiliki lebih dari satu miliar.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kemp menguraikan alasan: aplikasi chatting mirip dengan percakapan di dunia nyata. Aplikasi tersebut bebas digunakan, hanya memerlukan sedikit data atau kuota internet, dan tak disesaki oleh iklan seperti yang banyak kita temui di Facebook.
Dampak pergeseran tren terhadap bisnis
Kalaupun hal itu terjadi, keberadaan Facebook tak akan tergerus begitu saja. Lagipula, Facebook merupakan pemilik WhatsApp maupun Messenger. Namun, apa dampaknya terhadap sektor bisnis? Di sinilah polemik ini menjadi pelik.
“Kita tak bisa memantau percakapan (dalam aplikasi chatting) layaknya memantau percakapan di Facebook dan Twitter. Percakapan di aplikasi chatting bukanlah konsumsi publik, dan yang membuat percakapan publik lebih menarik adalah kita lebih mudah memahami orang-orang. Kita dapat mengetahui hal-hal apa yang mereka sukai, mempelajari apa motivasi mereka, dan mengobservasi percakapan mereka apa adanya, dan itu semua bisa kita lakukan atas izin mereka (privasi publik),” urai Kemp.
Intinya, saat ini akan lebih sulit bagi suatu brand untuk beriklan. Elemen-elemen seperti “like”, engagement, atau impresi—ukuran yang dapat “dimainkan”—kini tidak lagi menjadi tolok ukur kesuksesan kampanye suatu iklan.
“Kini kita perlu mempertimbangkan komunikasi dari mulut ke mulut. Kita kembali ke metode pemasaran zaman dahulu di abad ke-11, di kala kabar baik dan buruk tersebar lewat tatap muka langsung. Saat ini kita melakukan hal serupa lewat aplikasi chatting,” tutur Kemp.
Simak tip meningkatkan pendapatan startup kamu melalui media sosial
“Seperti inilah perubahan media sosial. Ini bukan lagi soal membeli impresi,” imbuhnya. “Pada dunia di mana aplikasi chatting punya peran yang besar, kita tak lagi dapat membuat konten murahan dan menyisipkan berjibun iklan di dalamnya dan mengatakan, ‘lihat, engagement kami tinggi.’ Kita harus berbenah.
Prediksi itu dinyatakan oleh Simon Kemp, Managing Partner We Are Social region Asia, yang baru-baru ini menyampaikan gagasannya di konferensi #ThinkPH 2016. Konferensi tersebut dihelat oleh situs berita asal Filipina, Rappler, di Manila.
Kendati tak menyebut aplikasi chatting mana yang ia maksud, WhatsApp dan Facebook Messenger adalah dua aplikasi yang paling mendekati Facebook dalam hal jumlah pengguna aktif bulanan. Facebook memiliki pengguna aktif bulanan sebanyak 1,7 miliar, sedangkan Facebook Messenger dan WhatsApp masing-masing memiliki lebih dari satu miliar.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Kemp menguraikan alasan: aplikasi chatting mirip dengan percakapan di dunia nyata. Aplikasi tersebut bebas digunakan, hanya memerlukan sedikit data atau kuota internet, dan tak disesaki oleh iklan seperti yang banyak kita temui di Facebook.
Dampak pergeseran tren terhadap bisnis
Kalaupun hal itu terjadi, keberadaan Facebook tak akan tergerus begitu saja. Lagipula, Facebook merupakan pemilik WhatsApp maupun Messenger. Namun, apa dampaknya terhadap sektor bisnis? Di sinilah polemik ini menjadi pelik.
“Kita tak bisa memantau percakapan (dalam aplikasi chatting) layaknya memantau percakapan di Facebook dan Twitter. Percakapan di aplikasi chatting bukanlah konsumsi publik, dan yang membuat percakapan publik lebih menarik adalah kita lebih mudah memahami orang-orang. Kita dapat mengetahui hal-hal apa yang mereka sukai, mempelajari apa motivasi mereka, dan mengobservasi percakapan mereka apa adanya, dan itu semua bisa kita lakukan atas izin mereka (privasi publik),” urai Kemp.
Intinya, saat ini akan lebih sulit bagi suatu brand untuk beriklan. Elemen-elemen seperti “like”, engagement, atau impresi—ukuran yang dapat “dimainkan”—kini tidak lagi menjadi tolok ukur kesuksesan kampanye suatu iklan.
“Kini kita perlu mempertimbangkan komunikasi dari mulut ke mulut. Kita kembali ke metode pemasaran zaman dahulu di abad ke-11, di kala kabar baik dan buruk tersebar lewat tatap muka langsung. Saat ini kita melakukan hal serupa lewat aplikasi chatting,” tutur Kemp.
Simak tip meningkatkan pendapatan startup kamu melalui media sosial
“Seperti inilah perubahan media sosial. Ini bukan lagi soal membeli impresi,” imbuhnya. “Pada dunia di mana aplikasi chatting punya peran yang besar, kita tak lagi dapat membuat konten murahan dan menyisipkan berjibun iklan di dalamnya dan mengatakan, ‘lihat, engagement kami tinggi.’ Kita harus berbenah.

Langkah yang bisa ditempuh pemilik brand
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh para pemilik brand. Kemp punya saran yang mungkin bisa kamu terapkan:
1. Pikirkan semua aspek pemasaran
“Anggap engagement media sosial sebagai hasil, bukan tolok ukur. Jika kita melakukan tugas dalam semua aspek pemasaran dengan benar, orang otomatis akan membicarakan brand kita secara alami, lewat mulut ke mulut di platform sosial digital. Itulah tolok ukur kesuksesan di dunia media sosial,” ucapnya.
Misal kamu adalah pemilik McDonald, sebagai contoh, bagaimana cara kamu memanfaatkan pengemasan makanan untuk menginspirasi posting lain di Instagram dan mendorong orang-orang untuk memotret makanan? Bagaimana cara kamu meningkatkan pelayanan konsumen dan proses lainnya untuk memicu orang-orang membicarakan produk kamu?
2. Jangan menginterupsi
Keberadaan iklan membuat netizen kesal saat membaca lini masa media sosial atau suatu situs. Iklan-iklan itu mencuat tatkala mereka sedang asyik membaca dan mengakibatkan waktu loading halaman yang dijelajahi jadi lambat. Menurut Kemp, lebih dari setengah pengguna internet di dunia menggunakan ad blocker dan menghapus cookie.
“Interupsi adalah korupsi. Hal tersebut mengikis nilai media,” tandas Kemp. Ia mengingatkan, “Jika kita tak membenahi cara dalam beriklan dan jika orang terus-menerus menggunakan ad blocker, selaku pemilik media, kita tak akan meraup keuntungan. Semua situs yang sering kita kunjungi serta menyajikan akses gratis terhadap berita dan hiburan tak akan lagi dibayar oleh pengiklan lantaran iklan-iklannya diblokir netizen. Dengan kata lain, media tersebut bisa binasa.”
3. Kembali ke motivasi dasar manusia
Lebih buruknya lagi, iklan pop-up jarang sesuai dengan alasan mengapa orang mengunjungi sebuah situs, sesal Kemp. Iklan-iklan tersebut tersalurkan kepada orang-orang dengan demografi–usia, jenis kelamin, lokasi–yang tepat, namun tidak secara konteks.
“Cari tahu motivasi mereka, bukan lokasi mereka berada. Mengapa mereka mengunjungi situs tersebut pada waktu itu? Jangan menyasar mereka secara demografis. Berhentilah merancang rencana dengan fokus pada demografis, dan mulailah dengan perhatian pada kehidupan orang-orang,” tandasnya.
Apa yang Kemp maksud dengan kehidupan adalah hal-hal yang orang pedulikan dan menjadi motivasi utama mereka. Dengan kata lain, hal-hal yang menggerakkan mereka untuk bangun di pagi hari dan mengambil sikap tertentu.
Kemp mengatakan bahwa iklan harus “memiliki nilai tambah”. Iklan harus mampu memecahkan masalah orang-orang atau memenuhi hasrat mereka.
“Di sinilah pemasaran harus menuju. Jika kamu punya brand shampoo, ketahuilah bahwa orang-orang bukan menyukai brand shampoo kamu, namun menyukai rambut mereka. Jika kamu pemilik brand Pantene, jangan hanya menjual produk yang mampu menjadikan rambut saya sehat sempurna, namun berikan juga tip soal rambut kepada saya.”
4. Pelajari cara pemasaran kepada mesin.
Terakhir, Kemp mengajak pemilik brand untuk fokus pada data. Data mampu memprediksi apa yang akan diperlukan atau dilakukan seseorang dan data memengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Namun, mayoritas dari kita tidak menyadarinya.
Algoritma Facebook mampu menempatkan teman-teman yang paling mungkin akan kita lakukan interaksi di bagian paling atas news feed. Situs e-commerce mampu merekomendasikan produk yang menarik bagi kita dengan mempelajari produk apa saja yang pernah kita beli. Aplikasi pencarian teman juga memanfaatkan algoritma untuk memberitahu siapa teman yang harus kita ajak bertemu.
Mesin membantu kita menyederhanakan pilihan, (jasa pembuatan website cikarang )sehingga kita semakin dipermudah dalam memilih.
“Kita hidup pada zaman di mana data yang dikumpulkan oleh perangkat di sekeliling kita akan menjadi penentu utama dari segala hal yang kita pikir merupakan jawaban terbaik untuk berbagai masalah dan keinginan kita. Dampaknya, kesuksesan bisnis di masa depan—di industri manapun kamu berkecimpung—akan ditentukan oleh pengaruh suatu algoritma,” ujarnya memaparkan.
“Kesuksesan kita sangat bergantung pada bagaimana kita bisa memengaruhi algoritma tersebut. Realitas masa depan kita adalah kita memasarkan diri pada mesin,” pungkas Kemp.
Baca juga :
EmoticonEmoticon